Cuaca Ekstrim


Alam ini keliatannya sudah semakin sepuh ya bro. Ibarat manusia dah sakit sakitan. Apalagi Kurang terawat. Tebang sana sini sesukanya. Akibatnya alam pun mengamuk. Cuaca nggak tentu. Kadang puanas. Kadang hujan dueras. Seperti yang saya alami kemaren. Setelah dibohongi kampus (katanya pembagian toga wisuda..ee..pret toga belum ada) saya akhirnya pulang dulu. Untuk kesekian kalinya saya menyusuri rute 150km. Setelah mampir sebentar di rumah kakak saya meneruskan perjalanan. Perasaan sudah nggak tenang melihat mendung menggantung di langit di arah yang saya tuju. Yup, saya berkendara menyongsong hujan.

Ketika hujan masih rintik rintik saya menepi untuk mengenakan jas hujan. Fiuh, ribet. Protektor yang saya pake menyulitkan saya memakai jas hujan. Akhirnya setelah berkutat beberapa menit perjalanan saya teruskan. Udara semakin dingin dan basah. Akhirnya hujan yang saya songsong inipun tiba. Fiuh, deras banget bro. Mungkin ini hujan paling deras yang saya alami. Pandangan cuma beberapa meter. Visor helm sama sekali nggak jelas untuk melihat karena seperti sungai sakin derasnya air. Kalau visor dibuka beberapa menit aja mata sudah pedih. Karena selain hujan yang sangat deras angin pun kencang. Helm suaranya klotak klotak air hujan. Sebenarnya pernah sih saya mengalami kaya gini. Tapi bedanya dulu saya nyetir mobil. Jadi nggak begitu terasa, cuma jalan super pelan. Nah ini, saya benar benar merasakan kemarahan alam. Jalan cuma 20 an km/jam. Karena hampir buta saya sengaja ngikut truk di depan saya. Selain sebagai perlindungan dari angin, lampu di pojok kanan dan kiri truk saya jadikan panduan lebar jalan. Jadi saya mengambil jalur di tengah tengah lampu. Ini penting sekali. Karena jalan raya juga tidak terlihat karena tergenang air hujan. Semacam banjir kecil. Tidak jelas mana aspal mana tanah. Banjir ini juga membawa petaka. Banyak batu batu yang keliatannya lumayan besar terbawa ke jalan. Terasa sewaktu saya lindas agak oleng. Sebenarnya kondisi ini sudah nggak safe lagi untuk meneruskan berkendara. Memang sih sebaiknya menepi dulu menunggu agak reda. Tapi sudah kepalang basah. Terasa “jerohan” saya basah mungkin air hujan sudah masuk ke sela sela jas hujan. Kalau saya menepi dengan baju yang sudah basah ini malah tambah masuk angin. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hujan deras ini juga memakan korban. Dua buah truk satu hino satu toyota saling cium hingga kepala truk penyet dan melintang di tengah jalan. Muatan truk toyota yaitu tebu berceceran di jalan. Truk toyota ini juga menabrak kios kecil di tepi jalan. Setelah truk hino yang melintang dipinggirkan lalilintas bisa bergerak kembali.

Jantung tambah dag dig dug sewaktu saya melintasi areal persawahan yang sepi. Petir menyambar nyambar. Jelas sekali sinarnya di langit kelam. Apalagi saya baru baca dikoran gadis remaja di jawa tengah tewas tersambar petir. Dalam situasi seperti ini memang hanya bisa pasrah. Terasa sekali kalau manusia itu memang benar benar kecil. Nggak ada apa apanya deh dibandingkan sang pencipta. Lawong “cuma” dikasih hujan bentar gitu aja dah banjir, semua dah morat marit. Jadi malu saya mengingat kesombongan yang pernah saya lakukan.

Rasanya penderitaan saya memang belum berakhir. Indikator bbm kelip kelip minta diisi. Jadi nyesel saya nggak ngisi bensin dulu tadi. Apalagi malemnya si Byson saya bawa muter muter jadi bbm nya terkuras. Saya pun mampir ke sebuah pom bensin. Ee.. ternyata tidak beroperasi karena banjir. Mesin mesinnya bahkan sampe ditutup terpal menghindari terjangan angin. Ya sudah, perjalanan saya teruskan. Sembari harap2 cemas semoga bbm nya cukup. Akhirnya agak jauh saya ketemu pom lagi. ALhamdulilah yang ini beroprasi. Saya mencari cari uang yang sudah saya siapkan saya selipkan di sarung tangan. Lakok amblas entah kemana. Fiuh. Dompet saya taruh di dalam tas dan sulit mengambilnya, apalagi hujan. Susah payah saya merogoh2 kantong celana di dalam jas hujan saya, sambil sekali lagi jadi salesman yamaha menjelaskan yamaha byson ke pegawai pom. Alhamdulilah ketemu 10rb. Lumayan…

Alhamdulilah juga setelah beberapa saat hujan sudah tidak segila tadi. Saya bisa melaju 60 an km/jam. Dan akhirnya bisa sampai rumah dengan selamat. Basah kuyup walaupun sudah pakai jas hujan. Termasuk tas saya walaupun sudah pakai cover tetep basah saking derasnya hujan. Sehabis mandi cepet cepet saya mandiin byson yang sekarang berwarna cokelat.

About raiderobie

motorcycle lovers
This entry was posted in cerita, Yamaha Byson. Bookmark the permalink.

2 Responses to Cuaca Ekstrim

  1. touringrider says:

    mas. blognya bagus, tapi sayang, mau komentar saja susah.. ganti wp yuks..hehehehe

  2. blog e obie says:

    huaah, kompor mode on maneh iki…heheiya2 mas.. hbs urusan wisuda beres tak nggawe wp. Semacam blog kembar ngunu..eman2 iki..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s